Jumat, 27 April 2012

demokrasi & amal islami


DEMOKRASI dan AMAL ISLAMI
Untukmu Pemuda : Beramal saleh di alam demokrasi



Oleh : Iman Priatna Rahman
Pusat Studi & Pemberdayaan Kawula Muda Kuningan
PUSPA KAMUNING
Demokrasi dan Konsep Islam
Banyak teori dan definisi tentang demokrasi. Hadir pula pemuja dan penolaknya sesuai argumentasinya masing-masing. Namun, kita sepakat bahwa demokrasi adalah sebuah teori dan kesepakatan atau sistem yang dihasilkan oleh akal kolektif manusia. Manusia hari ini tentunya. Sehingga kita tidak perlu heran bila dikemudian hari ada teori dan kesepakatan baru lainnya. Karena produk manusia itu nisbi, tidak kekal dan datangnya bukan dari al kholiq.
Secara mendasar perbedaan demokrasi (sekuler) dengan konsep politik Islam terletak pada pandangan tentang siapa pemegang kedaulatan. Konsep demokrasi sekuler menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, mereka mengusung jargon suara rakyat adalah suara Tuhan.
Sementara dalam konsep Islam, kedaulatan sepenuhnya di tangan Tuhan (Alloh SWT) dan suara Tuhan harus menjadi suara rakyat. Implikasinya, hukum dalam demokrasi sekuler merupakan nota kesepakatan bersama yang dihasilkan melalui konstitusi, sedangkan dalam Islam, hukum itu sudah tersedia dengan cuma-cuma dari Alloh (given) dan adalah tugas konstitusi untuk merealisasikannya.
Namun, meski perbedaannya sangat mendasar tetapi titik temu keduanya pun sangat mendasar. Yaitu pada konsep partisipasi. Konsep ini memberikan posisi yang kuat kepada masyarakat terhadap negara dan mengunggulkan akal kolektif atas akal individu.
Pemberdayaan masyarakat terhadap negara berlandaskan nilai-nilai kebebasan dan hak asasi manusia, sedangkan keunggulan kolektif berbasis pada upaya mengubah keragaman menjadi sumber kekuatan, kreativitas dan produktifitas. Karenanya, demokrasi memberikan implikasi yang kuat terhadap proses pemberdayaan masyarakat.
Menurut para penggiatnya, demokrasi adalah sistem yang disusun untuk mewadahi heterogenitas. Para pakar teori konflik pun menyatakan bahwa, konflik adalah bagian yang tak terpisahkan (inhern) dalam kehidupan sosial politik dan mengekspresikan heterogenitas tersebut. Semakin heterogen maka potensi konflik semakin rumit. Salah satu titik perbedaan dalam masyarakat terletak pada keragaman ide, aliran pemikiran dan ideologi, nilai dan kepercayaan, atau semua yang kita sebut dengan produk akal manusia.

Memahami dan Memanfaatkan Demokrasi
Penjelasan inilah yang mendasari sikap kita terhadap demokrasi. Sejarah telah menjelaskan bahwa penjajahan eropa terhadap dunia Islam, munculnya penguasa-penguasa tiran dan pemerintahan represif setelah kemerdekaan, telah mematikan potensi umat secara keseluruhan. Faktanya pula, negara-negara imperialis barat secara sistematis membentuk dan mempertahankan pemerintahan militer di negara-negara Islam dengan maksud itu. Maka, di atas wilayah geografis yang sangat luas, sumber daya alam yang sangat kaya, dan sumber daya manusia yang sangat banyak, kaum muslimin menjadi masyarakat paling miskin, paling bodoh, dan paling terbelakang di dunia.
Berangkat dari titik temu konsep partisipasi antara Islam dan demokrasi serta kenyataan sejarah akan potensi umat yang tidak  terberdayakan, maka kita berkesimpulan bahwa; demokrasi adalah sarana dan pintu masuk bagi kekuatan amal Islami atau pemuda khususnya untuk memberdayakan dirinya, masyarakat dan negara serta selanjutnya berpartisipasi dan berkontribusi dalam membangun peradaban bumi. 
Mungkin kita perlu sedikit memahami ungkapan seorang ulama yang mengatakan bahwa; walaupun demokrasi bukan sistem Islam, tapi  inilah sistem politik modern yang lebih dekat dengan Islam. Dimana mekanisme syuro umpanya, mendapat tempat dalam mencari mufakat untuk kemaslahatan bersama. Pun, keunggulan kolektif (produktifitas kejamaahan) yang diklaim sebagai kehebatan produk demokrasi sesungguhnya sudah ada sejak lama dalam konsep Islam. 

Implikasi Demokrasi
Semua orang bebas, adalah keniscayaan demokrasi. Kebebasan adalah nilai utama yang menyangga demokrasi. Setiap entitas, termasuk entitas nilai, punya hak (kebebasan) untuk hidup. Setiap individu dalam masyarakat demokrasi sama dengan individu yang lain. Semua sama-sama bebas untuk berpikir, berekspresi, bertindak dan memilih jalan hidup. Tidak boleh ada rasa takut, tidak boleh ada tekanan terutama dari militer. Kebebasan hanya dibatasi oleh kebebasan yang sama.
Fungsi negara yang menganut demokrasi adalah memfasilitasi masyarakat untuk hidup bersama secara damai. Negara bertugas untuk melindungi setiap individu atau entitas untuk hidup menurut cara mereka. Negara bekerja atas dasar kesepakatan bersama antar warga negara, sesuatu yang kita sebut konstitusi, undang-undang atau hukum.
Demokrasi juga membuat ekonomi menuntut hadirnya pasar bebas. Lalu lintas barang, jasa dan manusia menjadi bebas dan tanpa batas. Ekonomi modern menjadi borderless world (dunia tanpa batas) secara teritorial, regulasi dan nilai. Semua pergerakan tadi tunduk pada hukum supply and demand. Semua barang dan jasa harus bisa diperdagangkan selama ada permintaan pasar.

Menikmati Berkah Demokrasi
Maka semua orang menikmati demokrasi. Dengannya para kapitalis memiliki akses ke semua sudut pasar potensial. Para buruh juga mendapatkan payung politik yang memberi perlindungan hak-hak dan kebebasan bekerja. Para politisi pun bermunculan seiring menjamurnya partai politik. Kelompok minoritas dalam semua bentuknya, termasuk minoritas nilai (bahkan yang menyimpang) juga mendapatkan haknya untuk hidup.
Dakwah Islam pun mendapatkan berkah demokrasi, disini para dai dan atau penggerak amal Islami menemukan kebebasan untuk bertemu dan berinteraksi secara terbuka dan langsung dengan semua objek dakwah. Para pemuda pun mendapatkan ruang untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri berpartisipasi dalam mengelola masyarakat dan bahkan negara. Otoritarianisme dan kediktatoran membuat kita tidak bisa bernapas lega. Karena disini tidak ada tempat bagi ekspresi yang lepas.

Pertarungan Demokrasi
Dalam masyarakat atau negara demokrasi maka yang berlaku bukan hukum benar-salah, tapi hukum legalitas. Sesuatu itu harus legal, walaupun salah. Dan, sesuatu yang benar tapi tidak legal adalah salah. Begitulah aturan main demokrasi. Karena itu masyarakat demokrasi cenderung bersifat eufemistis, longgar dan tidak mengikat. Dan kita  tahu, bahwa dalam alam demokrasi pelaku kemungkaran pun mendapatkan porsi yang sama untuk meretas jalan munkar. Bila mereka mendapatkan legalitas untuk menyemai kemunkaran maka dapat dibayangkan akibat dahsyat yang ditimbulkannya.
Demokrasi adalah pasar raksasa yang menampung semua produk ide dan gagasan. Dan, gagasan yang paling berbahaya dan mungkin bisa menghancurkan kehidupan umat manusia, bisa laku di pasar ini. Maka demokrasi adalah medan pertempuran baru antara al haq wal batil. Secara riil, medan pertarungan itu terletak pada dunia pemikiran, gagasan, ideologi, budaya atau cara, sistem, nilai-nilai dan seterusnya. 

Unggul di Era Demokrasi
Kekuatan amal Islami dan semua pendukung al haq termasuk pemuda harus segera melengkapi semua syarat untuk memenangkan pertarungan di era demokrasi. Hingga kapasitas harus bertemu dengan efektifitas baik skala individu maupun kolektif.  Atau, agar kebenaran berpadu dengan legalitas. Agar sesuatu yang benar dalam pandangan agama menjadi legal dalam pandangan hukum positif. Agar moralitas segera menjadi sendi dan ruh dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Hal lain, mayoritas adalah salah satu ukuran dalam demokrasi. Maka eksistensi kekuatan amal islami dan semua pendukung al haq termasuk pemuda itu harus mayoritas atau menjadi kekuatan kuantitatif. Karena, dalam masyarakat demokrasi kekuatan kualitatif sebuah kelompok harus dapat dibuktikan secara kuantitatif.
Di alam demokrasi, konsep Islam diuji secara teori dan aplikasi. Masyarakat menanti kontribusi riil solusi Islam dalam kehidupan (semua aspek), karena secara teori mereka sesungguhnya sudah mengenal kebenaran Islam. Maka, secara individu Islam harus menjadi identitas dan paradigma yang membentuk karakter, secara kolektif harus menjadi entitas, organisasi atau jaringan yang kuat dan efektif menghadang dan bahkan mengalahkan kemungkaran.
Inilah mengapa alam demokrasi menjadi semacam arena pertarungan peradaban yang sesungguhnya.
Oleh karenanya, mari menjadi muslim yang memiliki integritas pribadi yang mumpuni. Mari segera berhimpun menjalin sinergi agar semua manusia mendapatkan maslahat atas kehadiran kita, bi idznillah.
Amin ya robbal ‘alamin.

Wallahu ‘alam bishawab.

Rabu, 23 Desember 2009

24 Desember 2009

Happy Family Blueprint

Saat itu sudah lama dinanti, berdiskusi tentang ide-ide blueprint of happy family programe bersama sang istri tercinta. Diskusi menjadi penting dilakukan agar diperoleh skema dan peta menuju happy family dimaksud. Ada beberapa alasan mengapa diskusi ini penting diantaranya adalah:
1. Keluarga adalah kekayaan kami
2. Segala sesuatu dimulai dari impian
3. Segala sukses bergantung mindset yang benar
4. Kata-kata yang ditulis dan diucapkan itu berkuasa
5. Imajinasi lebih unggul dari kemauan
6. Pikiran itu bagaikan magnet, "What you think becomes thins, talk become takes"
7. Alam semesta ini berlimpah, tidak ada kekurangan kecuali di dalam pikiran kami sendiri
8. Apapun di dunia ini tidak ada artinya sampai kami sendiri yang memberi arti.
9. Pertanyaan yang benar, menghasilkan jawaban yang benar.
10. Kejelasan itu semua adalah kekuatan kami.

Untuk itu kami berkomitmen bahwa:
1. Kami harus selalu membangun nilai tambah (+) baik pribadi dan keluarga
2. Menjadi pembelajar sejati...terus belajar apapaun, kapanpun, kepada siapapun
3. Belajar bukan menyalahkan (BEJ; Blame, Excuse, Justify)
3. Bila kami mampu berbagi maka kami dapat memiliki lebih
4. Bila cobaan dan rintangan datang melanda itu adalah pertanda kami sedang bertumbuh menjadi lebih kuat dan lebih baik.

 Semoga Allah SWT memberi segala kemudahan, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, amin

Rabu, 16 Desember 2009

Bahagia adalah pilihan kita......ekspresikanlah


Gaya sang Pengubah dunia...

Inilah Madrasah Kita

Rasulullah saw tidak mempunyai manhaj selain Al Quran. Beliau tidak mempunyai fakultas, institut, sekolah untuk mendidik selain masjid. Murid-muridnya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya. Dari madrasah itulah peradaban Islam bertolak untuk mengubah dunia dengan manhaj-nya. Adakah Anda melihat sebuah madrasah yang lebih bersih dan lebih cerdas dari madrasah itu? Satu kaum yang duduk di atas pasir. Universitasnya dihampari pelepah kurma. Mereka sering diguyur hujan sambil menunggu sesuatu turun dari langit. Pembatasnya adalah iman. Dan kesatuan hati menambah ikatan mereka. Mereka para penggembala kambing, tanpa alas kaki dan dengan pakaian bersahaja. Namun mereka menjadi berwibawa dengan agama ini.
Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah[1478], benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al Munaafiquun, 63:8)
[1478] Maksudnya: kembali dari peperangan Bani Musthalik.
Dari madrasah itulah lahir orang paling cerdas yang pernah dikenal dunia, yang menjadi guru dunia dalam segala keutamaan dan ilmu pengetahuan. Itulah madrasah yang dicurahi rahmat, dibacakan padanya ayat-ayat, bersinar di dalamnya cahaya Rabbul-‘Alimin, sehingga kelak para alumnusnya menjadi guru-guru dunia.
Ada pertanyaan yang mencuat tentang generasi yang ditarbiyah langsung oleh Rasulullah saw itu: Apa yang mereka mimpikan? Apa yang mereka pikirkan? Apa yang mereka inginkan? Seberapa jauh cita-cita kelompok yang berkumpul secara sembunyi-sembunyi itu dan bermunajat secara pelan-pelan?
Tidak ada yang mereka inginkan selain mengisi kepala-kepala manusia dengan akal baru; menegakkan agama baru di muka bumi; mereka ulang pembangunan seluruh manusia; menghubungkan antara langit dan bumi sambil mengatakan, “Kepada-Mu kami mengabdi dan kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.”; dan mereka ingin memberi petunjuk kepada manusia, dengan izin Rabb mereka, kepada aturan baru, dan kemanusiaan baru. Mereka ingin menghimpun hati manusia untuk menuju kepada Tuhan manusia. Mereka ingin memasukkan perasaan baru di hati manusia yang pada gilirannya membentuk mereka menjadi umat terbaik yang diorbitkan untuk manusia, sebagaimana yang dikehendaki oleh Rabb manusia. Itu semua dilakukan dengan tarbiyah yang bertumpu pada tiga tonggak, yang dengannya mereka mengaktualisasikan pengabdian kepada Allah Rabb sekalian alam. Ketiga tonggak itu adalah:
Pertama: Iman yang paripurna.
Iman yang membersihkan segala tujuan selain tujuan dakwah mereka. Mereka telah mendengar seruan. Lalu mereka berlari menuju Allah sembari menjadikan ‘laa ilaaha illallah’ sebagai syi’ar mereka seraya menganggap kecil semua selain itu. Mereka tidak tertarik dengan peradaban Persia dan Romawi, tidak pula dengan kemajuan materialistik mereka pada masa itu. Mereka juga tidak tersibukkan oleh kemajuan ilmu yang dicapai oleh orang sebelum mereka. Sebab, orang-orang itu menuhankan selain Allah. Dan Persia, betapapun mencapai kemajuan, namun mereka berada dalam kesesatan karena menyembah syahwat dan hawa nafsu mereka. Sedangkan ahlul-kitab sesat karena mereka menjadikan para pendeta dan para pemuka agama mereka sebagai tuhan, selain Allah. Dan apa yang ada di bumi beredar dalam orbit kesesatan bila tidak mengambil petunjuk dan cahaya Allah.
Begitulah mereka memandang peradaban yang ada di sekitar mereka. Karena memang demikianlah madrasah Rasul mereka mengajarkan. Madrasah itu mengajarkan dan mendidik mereka bahwa mereka berada dalam kebenaran yang nyata. Sebab, mereka telah membersihkan diri dari paganisme, hawa nafsu, dan syahwat mereka, dan mempersembahkan semua itu kepada Allah. Mereka tidak beribadah kepada selain Allah. Tidak tunduk selain kepada Allah. Tidak bersandar selain kepada Allah. Tidak memohon selain kepada Allah. Tidak merasakan kenikmatan selain saat mereka merasa dekat dengan Allah. Mereka tidak merasakan penderitaan kecuali dengan dosa yang mereka lakukan akibat jauh dari Allah. Hal-hal itulah yang mempersatukan hati mereka, setelah mereka mengetahui bahwa bumi ini akan Allah wariskan kepada orang yang Dia kehendaki dan bahwa kesudahan yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa. Maka sirnalah segala sekat pembeda yang dapat mencabik-cabik jamaah dan berpotensi merenggangkan satu hati dari hati lainnya. Karena memang mereka telah tercelup dengan celupan baru.
“(Pegang teguhlah) celupan Allah. Dan siapakah lagi yang lebih haik celupannya dari pada (celupan) Allah.” (Qs. Al Baqarah, 2: 138)
Kedua: Cinta yang tangguh, persatuan hati, dan kepaduan ruhani.
Atas hal apa mereka berselisih? Atas secuil keuntungan dunia? Atas perbedaan peringkat, pangkat, gelar, padahal mereka mengetahui, “Sesungguhnya orang yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Qs. Al Hujuraat, 49: 13)
Tidak ada faktor-faktor yang membuat mereka – para pembuat sejarah dan peradaban rabbani itu – berpecah dan persatuan mereka tercabik-cabik. Makanya mereka bersatu dan menjadi saudara di jalan Allah. Tidak seorang pun menghina yang lainnya. Bahkan masing-masing mencintai saudaranya itu melebihi cinta kepada dirinya sendiri. Sebab, mereka membaca firman Allah:
“Katakanlah jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta yang kamu kumpulkan, perdagangan yang kamu khawatirkan kebangkrutannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan siksa-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Qs. At-Taubah, 9: 24)
Cinta mereka di jalan Allah. Benci mereka karena Allah. Mereka memberi karena Allah. Tidak memberi, juga karena Allah. Lalu terceluplah kehidupan mereka dengan cinta dan dengan cinta itu pula mereka mendakwahi manusia. Begitulah mereka ditarbiyah.
Ketiga: Mereka juga dibina untuk berkorban sehingga mendorong mereka mempersembahkan segala yang mereka miliki kepada Allah, Rabb sekalian alam.
Sampai-sampai ada di antara mereka yang berkeberatan untuk menerima ghanimah yang padahal dihalalkan Allah, hingga Allah menurunkan ayat, “Makan makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Qs. Al Anfal, 8: 69). Jadi, dalam hal yang halal saja mereka amat hati-hati dan meninggalkannya karena menginginkan perhitungan dari Allah. Mereka ingin bahwa dalam amal mereka tidak tercemari dengan debu-debu kecintaan terhadap dunia. Dengan cara itu mereka keluar dari kehinaan menuju kejayaan, dari keterasingan menuju persatuan, dan dari kebodohan menuju ilmu. Merekalah pembangun peradaban dan pemberi petunjuk kepada manusia dalam arti yang sesungguhnya. Dan semua itu mereka peroleh dari pensucian (tazkiyah) yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Mandi BoLa

Tempat bermain SURYA Toserba buat mereka identik dengan Mandi BOLA. Di lantai tiga pusat perniagaan itu terdapat arena bermain yang sebenarnya tidak hanya zona mandi bola saja yang ada, tapi ada yang lain sebut saja bom bom car, kereta api dan lainnya.
Mandi bola terasa seru karena ada kombinasi antara panjat, loncat, rangkak dan luncur.
Ribuan bola yang terdapat di bak arena dalam beragam warna membuat suasana memang berbeda. Waktu usia mereka balita bisa 30 menit habis main di sana, baru nyicip main yang lain. Setelah usia beranjak mereka jadi singkat main di sana. Tapi meski singkat, mandi bola sepeti suda jadi menu wajib sebelum yang lain.

Selasa, 12 Februari 2008

9 Karakter Pemenang

9 Karakter Pemenang

Serial Resurrection - Gagal dan Bangkit Kembali

Saya senang sekali mengetahui bahwa di beberapa perguruan tinggi sudah mulai diberikan mata kuliah Karena sepandai apapun otak anda tetapi jika tidak memiliki karakter yang diperlukan, anda akan sulit meraih keberhasilan.

Ada 2 orang karyawan. Yang seorang, memiliki kemampuan diatas rata-rata, tetapi dia sering menyepelekan pekerjaanya dan tidak menanganinya dengan baik. Yang seorang lagi memiliki kemampuan biasa-biasa saja, tetapi dia memiliki semangat yang tinggi, disiplin dan serius dalam menangani pekerjaannya. Menurut anda, siapakah diantara kedua orang tersebut yang masa depan karirnya lebih baik?

Bisa jadi anda akan mengatakan tergantung dari keberuntungan kedua orang tersebut. Tetapi saya akan mengatakan pada anda bahwa keberuntungan adalah hasil dari kesempatan dan kesiapan. Kesempatan bisa datang kepada siapa saja, tetapi kesiapan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kualifikasi karakter seorang pemenang. Sudah jelas, kualifikasi karakter tersebut tidak akan dimiliki oleh tipe orang yang terbiasa menyepelekan pekerjaannya.

Karakter anda lah yang akan membantu mewujudkan apa yang sudah anda programkan didalam pikiran anda. Jika anda mau mengamati, orang-orang sukses yang berhasil mewujudkan cita-citanya adalah mereka yang memiliki karakter seorang pemenang. Bill Gates, Mahatir Mohamad, Donald Trump adalah contoh figur dengan karakter seorang pemenang dan bermental baja. Hampir tidak ada, bahkan sepengetahuan saya tidak ada sama sekali figur sukses yang berkarakter pecundang dan bermental tempe.

Untuk memiliki karakter seorang pemenang, anda harus merubah hal-hal mendasar yang ada didalam diri anda.

1. Tekad Dan Keberanian
Tekad dan nekad adalah 2 hal yang jelas berbeda. Benar bahwa orang-orang sukses biasanya adalah orang yang nekad, tapi tentunya mereka nekad dengan penuh perhitungan dan persiapan. Saya percaya, hampir setiap orang pasti bisa membuat perhitungan dan persiapan yang matang, tapi kenapa tetap saja hanya minoritas yang berhasil? Yang membedakan adalah bagaimana cara mereka melihat suatu masalah. Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di dalam setiap kesempatan, tapi orang yang optimis akan selalu melihat kesempatan di dalam setiap kesulitan. Sayangnya lebih banyak orang yang langsung mundur teratur hanya dengan membayangkan resiko yang akan dihadapinya. Segala sesuatu selalu dipandang sulit walaupun belum pernah mencobanya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk mereka yang minoritas ini. Buat mereka, selalu ada peluang dan peluang sekecil apapun layak untuk dicoba dengan penuh rasa optimis.

Perhitungan dan persiapan yang matang akan meminimalkan resiko, sedangkan tekad yang kuat akan menyingkirkan rasa takut dan keragu-raguan. Maka janganlah heran bila kebanyakan orang sukses memiliki pribadi yang teguh, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, tegas dalam bertindak dan mungkin bisa jadi agak keras kepala, bahkan cenderung ‘ndableg’. Karena mereka yang memiliki pribadi seperti itulah biasanya yang tahan uji dan tidak mudah menyerah. Tapi tentunya semuanya itu harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif.

2. Kreatif
Aristotle Onassis, seorang tokoh yang saya kagumi pernah berkata : "The secret of success is to know something nobody else knows." Rahasia untuk menjadi sukses adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain. Dengan kata lain anda harus berbeda dari orang lain, baik diri anda sendiri maupun sesuatu yang anda tawarkan. Jika anda tidak dapat memberikan sesuatu yang berbeda, maka anda akan sama dengan orang kebanyakan. Sesuatu yang sama akan menjadi umum dan tidak mencuri perhatian.

Tidak masalah menjadi ‘nyleneh’ asalkan alasannya kuat. Carilah celah baru dan jadilah trendsetter, jangan asal latah mengikuti arus kebanyakan. Tentunya anda juga harus memastikan bahwa ada kebutuhan yang cukup besar untuk celah baru tersebut. Apalagi di dalam dunia kompetisi yang makin ketat sekarang ini, hanya yang spesial dan berbeda lah yang akan menjadi bahan pembicaraan dan rebutan. Untuk itu anda haruslah kreatif dan bisa berpikir out of the box untuk dapat menemukan peluang yang belum dipikirkan oleh orang lain. Namun lagi-lagi dibutuhkan keberanian untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan.

3. Persiapan
Apapun yang hendak anda kerjakan, biasakanlah mempersiapkannya dengan matang. Pahami betul segala hal yang akan anda hadapi dan apa saja yang dibutuhkan untuk membuatnya berhasil. Cobalah untuk melihat dari berbagai sisi supaya anda tahu keadaan sesungguhnya.

Mantan atasan saya pernah berkata jika ingin presentasi anda berhasil didepan klien, ada 3 hal pokok yang harus dilakukan, yaitu : persiapan, persiapan dan persiapan. Seorang pemain tinju profesional sekalipun memerlukan persiapan yang matang sebelum menghadapi pertandingan. Dia bahkan akan mempelajari calon lawannya dan berusaha mencari titik kelemahannya. Sebegitu pentingnya sebuah persiapan sehingga hasil akhir sebuah pertandingan sudah bisa dilihat dari persiapan yang dilakukan.

4. Jangan Menunda Pekerjaan
Ada sebuah pribahasa yang sangat terkenal “Don’t wait til tomorrow what you can do today.” Namun entah kenapa oleh banyak orang pribahasa itu dipahami menjadi “Don’t do today what you can wait til tomorrow.” Saya sering harus menahan rasa jengkel setiap kali berurusan dengan institusi yang bernama kelurahan / kecamatan. Proses administrasi yang seharusnya bisa selesai dalam waktu 1 atau paling lama 2 hari bisa molor sampai 1 hingga 2 minggu. Jadi seperti bunyi iklan sebuah merk rokok : “Kalau bisa susah kenapa dibikin gampang. Tanya kenapa” Suatu kali saya pernah mencoba menanyakannya langsung, tapi dijawab oleh staf kelurahan tersebut, “Ya memang begitu prosedurnya.” Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.

Untuk anda yang memiliki ‘prosedur’ hidup yang sama dengan staf kelurahan tersebut, saya sarankan untuk segera berubah. Karena jika tidak, sampai kapanpun anda juga tidak akan dapat menikmati keberhasilan karena selalu masih ada hari esok. Biasakanlah membuat daftar pekerjaan yang harus anda lakukan hari ini. Jadikan daftar itu sebagai panduan kerja sehari penuh. Gunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin untuk mengerjakannya dan tandailah setiap pekerjaan yang sudah anda selesaikan. Sadarilah bahwa setiap pekerjaan yang tidak terselesaikan hari ini akan menjadi beban untuk keesokan harinya. Sedangkan esok, ada banyak pekerjaan lain lagi yang harus diselesaikan. Jika anda bisa menerapkan prinsip ini dengan baik, anda akan merasakan beban hidup anda menjadi lebih ringan.

5. Manajemen Waktu
Ketika di bangku kuliah, ada satu mata kuliah yang sangat saya sukai yaitu Manajemen Proyek. Mata kuliah ini mengajarkan bagaimana menyelesaikan sebuah proyek yang terdiri dari banyak sekali pekerjaan dengan waktu sesingkat mungkin. Caranya adalah dengan menata tahapan pekerjaan tersebut sedemikian rupa sehingga waktu yang digunakan benar-benar efektif dan efisien. Ada jenis pekerjaan yang hanya bisa dilakukan setelah pekerjaan yang lain diselesaikan. Namun ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu bersamaan.

Ilmu ini sangat membantu saya ketika memasuki dunia kerja dan sampai saat ini terbukti membuat saya mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dengan waktu yang sangat efektif. Saya menyarankan anda untuk mencoba melatihnya. Anda sudah membuat daftar pekerjaan seperti yang saya sarankan bukan? Langkah selanjutnya adalah menentukan mana pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan dan mana yang baru bisa dilakukan setelah pekerjaan yang lain diselesaikan. Jika anda melakukannya dengan benar dan membiasakannya, anda akan terkejut mengetahui bahwa anda telah menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dibandingkan orang lain dalam waktu yang sama.

6. Disiplin Waktu
Sebuah maskapai penerbangan kita pernah sangat terkenal karena seringnya keterlambatan jadwal penerbangannya. Begitu melekatnya cap negatif tersebut sampai ketika maskapai tersebut melakukan restrukturisasi dan menyatakan bahwa mereka sudah berubah menjadi lebih baik, tidak banyak orang yang percaya.

Seringkah anda mengecewakan klien atau teman anda dengan datang terlambat dari waktu yang telah disepakati? Jika anda sekali-kali mencoba sebagai si korban, anda tentu akan memahami bahwa banyak sekali waktu dan pekerjaan lain yang menjadi terbengkalai dikarenakan keterlambatan tersebut, dan itu sangatlah menjengkelkan. Kebiasaan jam karet ini juga menandakan bahwa anda tidak menghargai orang lain. Dengan demikian jangan berharap orang lain akan menghargai anda dan jelas mereka akan berpikir dua kali jika ingin menjadikan anda sebagai mitra bisnisnya. Dan jika cap negatif itu sudah terlanjur melekat di diri anda, akan sangat sulit mengembalikan kepercayaan orang terhadap anda. Kebiasaan jam karet juga membuat waktu anda menjadi tidak efektif dan banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan. Ini menandakan bahwa anda tidak merencanakannya dengan baik. Lagi-lagi, persiapan lah kuncinya. Jadi jika anda mau menjadi orang yang berhasil, be on time in everything you do.

7. Apa Yang Anda Tabur, Itulah Yang Anda Tuai
Pernah ada seorang teman yang mengeluh kepada saya bahwa dia kecewa dengan perusahaan tempatnya bekerja karena sudah 7 tahun bekerja namun posisinya masih disitu-situ saja. Sedangkan beberapa teman sekantornya sudah ada yang menjadi manajer. Namun, di kesempatan lain dia sering menceritakan betapa dia sangat mengharamkan lembur. Alasannya karena dia digaji hanya untuk bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, jadi kalau ada pekerjaan tambahan yang membutuhkan extra time itu adalah urusan perusahaan. Tidak jarang juga dia mengatakan bahwa dia tidak mau ngoyo dalam bekerja karena semua yang dilakukannya toh untuk perusahaan. Dia yang capai bekerja tapi perusahaan yang menikmati hasilnya.

Kontras sekali bukan? Sungguh aneh jika ada seseorang yang tidak memiliki komitmen dalam bekerja tetapi menginginkan peningkatan karir yang cepat. Andai saya sebagai pemilik perusahaan, saya juga tidak akan mempromosikan karyawan seperti itu. Saya ingin mengatakan bahwa jika anda tidak setia dalam perkara kecil jangan berharap anda akan diberi perkara yang besar, karena perkara besar membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar, tidak sekedar gajinya saja yang besar.

Melihat kasus teman saya diatas, bisa diketahui bahwa falsafah hidupnya sudah salah duluan. Apapun yang keluar dari diri anda, andalah si penaburnya. Dan apapun yang anda taburkan, anda pulalah yang akan menuainya. Terpikirkah oleh anda bahwa jika anda bekerja asal-asalan, apakah perusahaan merugi? Ya, mungkin merugi tapi sedikit saja, itu bukan hal yang besar. Perusahaan dengan mudah akan menempatkan orang lain yang lebih capable dan masalah dengan cepat terselesaikan. Tapi untuk anda, itu suatu kerugian besar. Anda tidak bisa berharap skill anda akan bertambah dengan bekerja asal-asalan. Jika anda tidak pernah mendapat tanggung jawab yang lebih besar, knowledge anda juga akan disitu-situ saja. Dan kalau anda membiasakan bekerja dengan karakter seperti itu, percayalah seratus kali anda pindah bekerja seratus kali pula anda akan tetap menjadi staf. Kalau toh anda tetap ngeyel bertahan di satu perusahaan, paling-paling anda akan dibuang ke divisi yang tidak penting-penting amat sampai anda depresi sendiri dan akhirnya memutuskan untuk resign. Tapi, dari pengalaman saya ternyata banyak pula yang justru senang ditempatkan di divisi seperti itu dengan posisi ‘idle’ dan malah ndableg kesenengan makan gaji buta. Untuk yang terakhir ini saya harus angkat tangan. Jadi, orientasi anda lah yang harus dirubah. Buang jauh-jauh pemikiran bahwa anda bekerja untuk dinikmati oleh orang lain. Apapun yang anda lakukan, anda sedang menabur untuk diri anda sendiri dan anda lah yang akan menuai hasilnya. Jadi, berikanlah yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang anda lakukan.

8. Bekerjalah Lebih Pintar
Saya juga tidak mengatakan bahwa anda harus mau bekerja lembur setiap hari dan mati-matian menguras tenaga anda. Jika itu yang anda lakukan anda akan berakhir seperti kebanyakan orang yang hidupnya 7P : Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan. Sudah bukan jamannya mengandalkan otot. Jangan cuma menjadi executor, tapi jadilah problem solver. Work smarter, don’t work harder. Gunakan kepandaian anda untuk mencari solusi agar perkerjaan anda dapat diselesaikan dengan lebih cepat, lebih baik dan masalah yang sama tidak akan terjadi lagi.

9. Terbuka Terhadap Perubahan
Di perusahaan tempat saya bekerja dulu ada satu ‘mantra’ yang selalu saya baca di pintu masuk ruangan atasan saya. Sebenarnya ‘mantra’ tersebut adalah sebuah kata-kata motivasi yang berbunyi : “Things do not change, we change.” Saya menyebutnya ‘mantra’ karena selama hampir 5 tahun bekerja saya selalu membacanya setiap hari sampai kata-kata tersebut begitu melekat di otak saya seperti sebuah mantra. Selama kurun waktu tersebut saya tidak pernah menanyakan maknanya, tapi yang saya tangkap adalah bahwa segala sesuatu di dalam hidup kita tidak akan berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya. Di sisi lain, segala sesuatu di luar diri kita terus berubah dan cenderung makin cepat berubah dewasa ini. Sehingga jika saya boleh memperluas ‘mantra’ tersebut maka akan menjadi : “Things change, so we have to change.”

Kedua-duanya memiliki makna yang sama yaitu bahwa manusia harus berubah mengikuti keadaan di sekelilingnya. Jadi pandai-pandai lah melihat hal-hal baru yang merubah jaman dan lingkungan di sekitar anda, entah itu tuntutan teknologi, budaya, skill, pola perilaku, dan lain sebagainya. Sesuaikanlah segera sejauh dibutuhkan. Lebih bagus lagi jika anda lah yang menjadi ‘angin perubahan’ itu sendiri sehingga menjadi trendsetter yang diikuti oleh banyak orang.

Tentunya untuk dapat jeli melihat perubahan tidaklah mudah. Kebanyakan orang terjebak hanya menjadi penonton dan ketika tersadar, mereka sudah tertinggal jauh. Kuncinya adalah pikiran yang terbuka terhadap perubahan itu sendiri. Jangan menutup diri dengan dogma / prinsip yang kaku dan kadaluarsa. Tidak ada hal yang tetap, segala sesuatunya berubah dan akan terus berubah. Yang dulu benar bisa jadi sekarang tidak benar, begitu juga sebaliknya. Maka, terbukalah akan hal-hal baru dan pelajarilah terlebih dahulu sebelum menghakiminya. Karena jika tidak mau berubah, maka anda akan punah.